Showing posts with label thing to ponder. Show all posts
Showing posts with label thing to ponder. Show all posts

Monday, July 27, 2009

--no more good luck--

Assalamualaikum wbt.
'Good luck' adalah lafaz biasa yang diucapkan oleh seseorang kepada seseorang yang akan berhadapan situasi samada peperiksaan, temuduga atau apa-apa sahaja yang melibatkan penilaian prestasi diri.

'Luck' atau nasib merupakan faktor luaran yang menyumbang kepada kejayaan atau kegagalan seseorang. Faktor luaran adalah tidak tetap dan akan berubah mengikut keadaan dan nasib kita juga. Namun, adakah kita mampu menentukan nasib kita sendiri? Allah berfirman, maksudnya:
Mereka menjawab: "Kami mendapat nasib yang malang, disebabkan kamu dan orang-orang yang besertamu". Saleh berkata: "Nasibmu ada pada sisi Allah, (bukan kami yang menjadi sebab), tetapi kamu kaum yang diuji"(27:47)
Sedar atau tidak, nasib dan takdir kita telah ditetapkan oleh Allah swt. Sejak kita masih dalam rahim ibu yang mengandungkan kita. Perkara ini ada dinyatakan oleh junjungan besar kita,
Sesungguhnya setiap orang di kalangan kamu dihimpunkan kejadiannya dalam perut ibunya selama 40 hari berupa air mani, kemudian menjadi segumpal darah selama tempoh yang sama, kemudian menjadi seketul daging selama tempoh yang sama, kemudian dikirimkan kepadanya seorang malaikat lalu dia menghembuskan padanya ruh dan dia diperintahkan dengan 4 kalimat; iaitu supaya menulis rezekinya, ajalnya, amalannya dan adakah dia celaka atau bahagia.................
(hadis ke-4 daripada hadits arba'in).

Namun, adakah ini bermakna kita perlu hanya menyerahkan perjalanan hidup kita kepada nasib memandangkan segalanya telah ditetapkan dan ditentukan?

Jawapannya, TIDAK. Allah ada berfirman, mafhumnya
Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (13:11)
Ayat ini jelas menunjukkan Allah tidak akan mengubah nasib seseorang melainkan seseorang itu berusaha untuk mengubahnya. Namun, ini tidak bermakna semua nasib kita boleh diubah walau sedaya mana kita berusaha. Contohnya, seperti yang dinyatakan dalam penyataan hadits di atas, rezeki, ajal, amal perbuatan kita dan kesudahan hidup kita, samada bahagia atau sengsara telah ditetapkan sejak azali lagi. Bukankah Allah itu Maha Mengetahui (2:30)?

Kembali juga kepada konteks rukun Iman yang kita telah pelajari seusai tadika. Rukun yang ke -6, beriman kepada Qada' dan Qadar.

Maka, apakah keadaan yang mampu kita ubah?

Kita tidak tahu apakah kesudahan hidup kita sehinggalah tibanya saat itu. Maka, perjalanan yang kita lalui untuk sampai ke saat itu (yakni penyudahan hidup kita) adalah memerlukan sikap KEBERUSAHAAN agar kita mendapat penyudahan yang baik. Itulah keadaan yang boleh kita ubah berdasarkan keinginan kita samada untuk berubah ke arah yang lebih baik, kekal dengan prestasi atau menjadi yang sebaliknya.

Harus diingatkan juga bahawasanya KITA mempunyai pilihan untuk melakukan atau tidak sesuatu perkara tersebut seperti yang dinyatakan dalam firman Allah:
maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya,
sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu,
dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya. (91:8-10)
Segala perbuatan kita, adalah petunjuk dan gerak hati yang diilhamkan oleh Allah, namun kita mempunyai pilihan untuk melakukan atau tidak melakukannya.

Mungkin ada yang berkata, mengapa perlu berusaha, jika ia telah ditetapkan?
Dan barang siapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalas dengan baik. (17:19)
Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan.(20:15)
Kembali kepada konteks 'good luck'. Saya rasa, ucapan itu tidak sesuai dijadikan perangsang kepada seseorang yang menghadapi peperiksaan atau seumpamanya. Dalam konteks saikologi, 'luck' adalah faktor luaran yang menyebabkan seseorang kurang berusaha dan akan menyalahkan nasib sekiranya tidak cemerlang.

Bukankah kata-kata yang baik adalah doa?

Wallahua'lam

A journey. Overcoming fear and welcoming the unknown.

Saturday, July 25, 2009

2-1= 0 ??

2-1= 0

Dari segi ilmu matamematik, jawapan pengiraan di atas memang salah. Budak tadika pun tahu apa jawapan betul yang sepatutnya. Hakikatnya, itulah pengiraan dalam Islam. Pengakhiran hidup kita hanyalah dua, samada baik atau sebaliknya. Pekerjaan dan perlakuan kita hanya mempunyai dua balasan, pahala atau dosa. Tiada setengah atau suku darinya.

Formulanya senang. Segala kebaikan dan kebajikan yang kita lakukan, sejajar dengan syariat Islam, maka ganjaran pahalalah untuk pelakunya.Perintah dan suruhanNya yang kita lakukan dengan baik dan menepati garis panduan, juga pahala sebagai balasan. Dan sebaliknya.

Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorangwalaupun sebesar zarah, dan jika ada kebajikan sebesar zarah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.(4:40)
Barang siapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudaratan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.(4:111)


Aplikasi
Secara logiknya, adakah seseorang yang bertudung, tapi menampakkan susuk tubuh yang tidak sepatutnya dikira menutup aurat? Semestinya tidak. Apakah pelakunya akan mendapat ganjaran pahala atau sebaliknya? Dari pemahaman formula di atas, kosong jawapannya. Begitu juga dalam pemahaman tentang solat. Melakukan solat tanpa mematuhi rukun solat, adakah sah solat kita? Semua setuju jika jawapannya tidak.

Harus lengkapi syarat

Pening melihatkan stail tudung yang muncul dengan pelbagai stail dan corak. Stailnya dipadankan dengan contoh artis yang bertudung, kononnya menjadi ikon untuk muslimah bertudung. Gejala bertudung memang berkembang pesat di Malaysia dan ia memang dapat dibanggakan. Tapi, cuba pandang dua kali, adakah tudung yang dipakai menepati syara' Islam?

Allah memberikan garis panduan seperti yang termaktub dalam surah al-nur, ayat 31
Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.

Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya, kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita.
Perintah Allah menyatakan pemakaian tudung perlulah menutupi dada. Namun, banyak salah faham yang berlaku. Rata-rata yang bertudung tidak menepati hukum aurat. Bentuk dada masih didedahkan padahal rambut dan leher elok bertutup.

Apa yang kita dapat?

Saya menyeru kepada muslimah yang membaca artikel ini agar bertudung mengikut panduan dan syariat Islam. Bertudung bukan semata-mata menutup rambut kita, tapi perlulah menutupi dada juga. Saya rasa, alang-alang menampakkan dada, kenapa tidak yang lain juga padahal juga dosa yang dapat. Sama saja dosa orang yang bertudung tetapi tidak mematuhi syarat dengan yang mendedahkan rambut kerana pahala itu tiada separuh-separuhnya.

Dalam menutup aurat, Islam menetapkan pakaian seseorang muslimah perlulah meliputi seluruh tubuh wanita longgar, tidak nipis, bukan pakaian yang mempunyai nilai untuk bermegah-megah dengannya dan tidak menyamai pakaian lelaki.

Praktikal 2-1=0 juga untuk syariat-syariat Islam yang lain. Konsepnya mudah. Lakukan perintah Allah dengan mematuhi syarat-syaratnya, pahala akan kita dapat. Satu syaratnya kita abaikan, dosa yang diperolehi oleh kita.

Kadangkala, konsep ini kita terlepas pandang.
Wallahua'lam
Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (3:185)